

Dua hari berturut-turut, saya melakukan pemantauan langsung pelaksanaan Ujian Nasional (UN) ke beberapa sekolah. Hingga toilet para siswa/i pun saya masuki. Dari perjalan singkat itu, saya melihat adanya beberapa permasalahan teknis dalam pelaksanaan UN tahun ini. Namun dalam batas-batas wajar.
Selain itu, dari luar kelas, saya lihat para pelajar serius menghadapi soal-soal ujian. Lebih terlihat tertekan sebenarnya, menurut saya. Memang UN, sebagai salah satu variabel syarat kelulusan seorang pelajar, secara menasional menyebarkan kecemasan yang teramat sangat. Muncul sebuah pertanyaan bagi saya; kenapa bisa seperti itu?
Dalam dunia pendidikan, kewajaran menghadapi ujian. Ujian butuh sebuah persiapan. Bila persiapan matang, ujian seperti apa pun dan kapan pun tentu tidak akan masalah. Persiapan yang matang membutuhkan waktu yang panjang. Tak bisa beberapa waktu sebelum ujian akan berlangsung.
Ambillah contoh seorang atlet tinju. Tak mungkin tanpa latihan lama, dipukul dan memukul, si petinju bisa langsung naik ring dan menjadi pemenang. Seperti itu pula seorang pelajar, tanpa persiapan dari awal, wajar keteteran menghadapi ujian; apalagi tarafnya nasional. Seperti apa persiapannya? Tentu saja belajar, belajar, dan belajar lagi.
Kalau di dunia kampus terkenal istilah sistem kebut semalan (SKS) dalam menghadapi ujian. Besok ujian, malamnya baru basitungkin belajar; sebelumnya santai. Paradigma seperti itu salah besar; dan sangat tidak bisa dipakai dalam menghadapi UN. Semestinya belajar adalah kegiatan rutinitas setiap waktu, jangan dijadikan kegiatan yang ditumpuk dan dilakukan pada saat mau ujian saja. Itu memforsir diri sendiri dan bisa buat stress!
Apalagi ditambah dengan bayang-bayang ketidaklulusan; makin membuat tertekan. Dan bila iman tidak kuat, bisa mata gelap dan berlaku curang dalam ujian. Pada dasarnya, kelulusan UN bukanlah segala-galanya. Apalagi melalui jalan curang yang sangat tidak sesuai nilai pendidikan. Gagal UN bukan berarti dunia kiamat. Lulus UN belum bisa juga dikatakan sebagai kesuksesan besar, karena sukses besar dalam pendidikan adalah berhasil dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Untuk pelajar yang telah mengikuti UN kini hanya tinggal menunggu hasil. Bila lulus, maka jalan panjang ke jenjang pendidikan selanjutnya akan menanti. Tapi bila gagal; jangan berputus asa. Gagal berarti keberhasilan yang tertunda, masih banyak kesempatan untuk meraih kesuksesan hakiki.
Belajar dan belajar kembali. Evaluasi cara belajar selama ini dan robah menjadi lebih baik dan efektif. Di samping itu, jadikan aktivitas belajar sebagai ibadah. Dengan semangat keimanan, Allah SWT akan membuka hati untuk menyerap ilmu pengetahuan.
Faktor guru, bersama-sama dengan orang tua dan masyarakat, pun sangat penting. Guru sebagai pendidik juga mesti membantu murid-muridnya untuk sukses dalam kehidupan; bukan sekadar sampai lulus UN saja. Didik para pelajar menghadapi masa depannya yang masih panjang. Sinergi guru di sekolah dengan orang tua murid serta masyarakat pun amat teramat penting dalam usaha tersebut.
Copyright © 2010 Suraatmadja&Mahyeldi · All Rights Reserved